Saturday, April 4, 2009

Pendidikan menurut Dalai Lama

kutipan dari buku Ancient Wisdom Modern World, Elex Media Komputindo, halaman 181


Pikiran manusia (lo) adalah sumber dan apabila diarahkan dengan tepat juga merupakan solusi bagi masalah kita. Mereka yang berpendidikan tinggi namun tidak memiliki hati yang baik dapat menjadi mangsa yang empuk bagi kecemasan dan keresahan karena keinginan yang tak terpenuhi. Sebaliknya, pemahaman murni tentang nilai-nilai spiritual justru memiliki dampak yang berlawanan. Bilamana kita mendidik anak-anak kita meraih ilmu pengetahuan tetapi tanpa rasa iba (belas kasihan), maka sikapnya terhadap sesama mungkin akan menjadi campuran dari rasa iri terhadap orang yang melebihi mereka dan persaingan yang agresif terhadap rekan sebayanya, juga mencemohkan mereka yang kurang beruntung. Ini akan menuntun kepada kecenderungan bersifat tamak, penuh prasangka, berlebihan, dan cepat merasa tidak bahagia. Ilmu pengetahuan memang penting. Ini bergantung pada hati dan pikiran pemakainya.

Pendidikan lebih dari sekadar memisahkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk meraih tujuan yang sempit. la juga membuka mata seorang anak bagi kebutuhan dan hak-hak sesamanya. Kita harus menunjukkan kepada anak-anak bahwa aksi mereka akan memiliki dimensi universal. Dan kita harus menemukan cara untuk membangun rasa simpati mereka yang wajar supaya mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesama. Karena inilah yang sebenarnya mencetuskan tindakan kita. Memang, kalau kita harus memilih antara pengetahuan dan kebajikan, maka yang terakhir itu lebih bernilai. Hati yang baik, yang merupakan buah dari kebajikan, adalah manfaat yang besar bagi kemanusiaan. Hanya ilmu pengetahuan semata, tidaklah bermanfaat.

Lalu, bagaimana seharusnya kita mengajarkan moralitas kepada anak-anak kita? Saya merasa bahwa, pada umumnya, sistem pendidikan yang modern biasanya mengabaikan pembahasan tentang masalah-masalah etika. Ini mungkin tidak dimaksudkan hanya
sebagai produk sampingan dari realitas sejarah. Sistem pendidikan duniawi dikembangkan justru ketika institusi-institusi religius masih amat berpengaruh di seluruh lapisan masyarakat. Karena nilai-nilai etis dan manusiawi sebelumnya masih dianggap termasuk dalam ruang lingkup agama maka diperkirakan segi dari pendidikan anak ini otomatis akan terpelihara melalui pendidikan agama, baik bagi anak pria maupun wanita. Semua ini berfungsi dengan baik hingga pengaruh agama mulai surut. Walaupun kebutuhannya masih ada namun tidak terpenuhi, kita harus menemukan sejumlah cara lain dalam menunjukkan kepada anakanak bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar itu penting. Dan kita juga harus membantu mereka untuk mengembangkan nilai-nilai tadi.

Akhirnya, tentu saja, pentingnya kepedulian terhadap sesama dipelajari bukan dari kata-kata melainkan dari aksi/tindakan: panutan yang kita peragakan. jadi, lingkungan keluarga itu sendiri adalah komponen yang sangat vital dalam pendidikan anak-anak. Jika atmosfir peduli dan welas asih absen dari rumah, jika anak-anak diabaikan oleh orang tua mereka, maka dapat dipastikan akan ada dampak yang merugikan. Anak-anak cenderung merasa tak berdaya dan tidak aman, dan pikirannya sering tersiksa. Sebaliknya, apabila anak-anak menerima kasih sayang yang tetap dan perlindungan, mereka cenderung untuk menjadi kian bahagia dan lebih percaya diri dalam kemampuannya. Kesehatan fisik mereka juga cenderung kian membaik. Dan, kita merasa bahwa mereka peduli bukan saja pada dirinya sendiri tetapi juga pada sesama. Lingkungan rumah juga penting karena anak-anak akan belajar tingkah-laku yang negatif dari kedua orang tuanya. Kalau, misalnya, si ayah selalu bersitegang dengan para rekannya, atau kalau ayah dan ibu selalu berdebat kusir, maka walaupun pada awalnya si anak mungkin merasa ini tidak menyenangkan, lambat-laun mereka dapat memahami bahwa itu wajar-wajar saja. Pelajaran seperti ini kemudian akan dibawa ke luar rumah dan ke dunia.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa apa yang dipelajari anak-anak tentang tingkah-laku etis di sekolah harus dipraktikkan lebih dahulu. Di sini, para guru memiliki tanggung jawab khusus. Melalui tingkah laku mereka sendiri, mereka dapat membuat anak-anak mengingat mereka sepanjang hayat. Jika tingkah laku ini dijadikan prinsip, didisiplinkan, dan dituangkan menjadi belas kasihan maka nilai-nilai mereka akan tertanam di benak si anak. Karena, pelajaran-pelajaran yang diajarkan oleh seorang guru dengan motivasi yang positif (kun long) akan meresap lebih dalam di benak para siswanya. Saya tahu ini dari pengalaman saya sendiri. Sebagai bocah, saya sangat malas. Namun, ketika saya mulai menyadari adanya kasih sayang dan kepedulian dari para pembimbing saya, pelajaran-pelajaran mereka pada umumnya akan meresap lebih dalam daripada jika salah satu dari mereka bersikap kasar atau tidak berperasaan ketika itu.

Sejauh itu menyangkut kekhususan pendidikan, itu adalah bidangnya para ahli. Karena itu, saya ingin membatasi diri pada sejumlah saran. Urutan pertama adalah dalam upaya membangkitkan kesadaran para kawula muda tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar, lebih baik tidak menyajikan masalah-masalah sosial melulu sebagai persoalan etis atau sebagai masalah religius. Penting untuk menekankan bahwa apa yang kita pertaruhkan sama dengan kesinambungan hidup kita. Dengan cara ini, mereka akan dapat melihat bahwa masa depan terletak di tangan mereka sendiri. Kedua, saya yakin benar bahwa dialog dapat dan harus diajarkan di kelas. Menyuguhi para siswa dengan masalah kontroversial dan meminta mereka memperdebatkan adalah cara yang indah untuk memperkenalkan mereka dengan konsep memecahkan konflik tanpa kekerasan. Memang, orang akan berharap bahwa jika sekolah-sekolah menjadikan hal ini prioritas utama maka ia. akan memiliki dampak yang bermanfaat bagi keluarga itu sendiri. Saat melihat orang tuanya bertengkar, seorang anak yang telah memahami nilai sebuah dialog secara naluriah akan berkata, "Oh, bukan. Bukan begitu caranya. Kalian harus bicara, memperbincangkan sesuatu dengan layak."

Akhirnya, penting pula bagi kita untuk menghapus semua kecenderungan yang mengajarkan sesama dalam cahaya yang negatif, dari kurikulum sekolah. Tak diragukan lagi, dalam sejumlah bagian dunia pengajaran sejarah, misalnya, justru memelihara sikap munafik dan rasisme terhadap masyarakat lain. Tentu saja ini keliru. la tak menyumbangkan apa pun bagi kebahagiaan manusia. Sekarang terlebih lagi kita perlu memperlihatkan kepada anak-anak kita bahwa perbedaan antara "negeri kita" dan "negeri Anda", "agama saya" dan "agama Anda", hanyalah pertimbangan kedua. Sebaliknya, kita harus mendesakkan pengamatan bahwa hak saya bagi kebahagiaan sama kadarnya dengan hak sesama. Bukannya saya berkeyakinan bahwa kita harus mendidik anak-anak agar meninggalkan atau mengabaikan kultur dan tradisi sejarah mereka. Sebaliknya, yang penting adalah menanamkan hal ini ke dalam benak mereka. Baik bagi anak-anak untuk mencintai negaranya, agama mereka, kultur mereka, dan seterusnya. Namun bahaya akan datang jika hal ini berkembang menjadi nasionalisme yang kerdil, etnosentrisitas, dan kemunafikan religius. Contoh Mahatma Gandhi amat penting di sini. Walaupun dia mengenyam pendidikan Barat yang tinggi, dia tidak pernah melupakan atau menjadi terasing dari kekayaan warisan kultur India miliknya….


Sumber : http://www.semipalar.net


Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Pendidikan menurut Dalai Lama"

Post a Comment

Kasi Comment dulu ya...

 
 
back to top